Kasus-Kasus Cybercrime
FBI Turun Tangan Tangkap Hacker Surabaya Black Hat
Jakarta, CNN Indonesia -- Biro Investigasi Federal
Amerika Serikat (FBI) dikabarkan turun tangan langsung menangkap sindikat
peretas ratusan situs dan sistem elektronik Surabaya Black Hat di Surabaya,
Jawa Timur.
Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Komisaris Besar Frans
Barung Mangera mengatakan ada dua warga Surabaya yang diamankan oleh FBI dan
Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya dua hari lalu itu.
"Kami sebatas diberitahu saja," kata Barung, Selasa (13/3).
Dari keduanya, diamankan sejumlah barang bukti seperti laptop, gadget, dan modem. Barung mengaku tidak bisa menjelaskan detail karena pihaknya hanya sebatas diberitahu bahwa ada penangkapan di Surabaya oleh FBI dan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya.
Dari keduanya, diamankan sejumlah barang bukti seperti laptop, gadget, dan modem. Barung mengaku tidak bisa menjelaskan detail karena pihaknya hanya sebatas diberitahu bahwa ada penangkapan di Surabaya oleh FBI dan Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya.
Dua orang yang diamankan di kediaman masing-masing adalah
adalah KPS, warga Kecamatan Sawahan, dan NA, warga Kecamatan Gubeng.
Polisi menyebut, KPS dan NA masing-masing meretas lebih dari 600 website dan
sistem data elektronik di dalam dan luar negeri.
Adapun Polda Metro Jaya menyebut, ada tiga orang yang ditangkap di Surabaya
terkait dugaan peretasan ini. Selain KPS dan NA, ditangkap pula ATP. Mereka
tergabung dalam komunitas Surabaya Black Hat (SBH).
"Hingga saat ini telah ditangkap tiga dari target 6 tersangka yang
mengatasnamakan dirinya kelompok SBH," kata Kabid Humas Polda Metro
Jaya Raden Komisaris Besar Prabowo Argo Yuwono Kombes Argo Yuwono.
Saat ini kedua tersangka diamakan tim Satuan Reserse
Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Surabaya untuk dilakukan pemeriksaan.
Para tersangka peretas situs web tersebut terancam dikenai Pasal 30 jo 46 dan atau
pasal 29 jo 45B dan atau 32 Jo Pasal 48 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang
Perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 3, 4, dan 5 UU RI No 8
Tahun 2010 tentang TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang).
Ada lebih dari 44 negara, termasuk Indonesia dan Amerika yang diretas komunitas
Surabaya Black Hat. Negara lain yang diretas antara lain Vietnam, Cile,
Kolombia, Irlandia, Iran, Ceko, Bulgaria, Perancis, Inggris, dan Jerman.
Pembuat Malware Pencuri Uang Berasal dari Ukraina
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktorat Tindak Pidana
Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri menduga pelaku pencurian uang
perbankan dengan memanfaatkan peranti lunak jahat (malware) merupakan orang
kulit putih yang berasal dari Ukraina dan hingga kini masih aktif menjalankan
operasi mereka.
Hal ini diungkap Polri berdasarkan data kurir Western Union dan Moneygram yang
melakukan pengiriman uang hasil curian ke Ukraina.
Diketahui bahwa Polri berhasil mengungkap modus penipuan oleh warga asing
menggunakan malware yang telah merugikan Rp 130 miliar dalam sebulan. Malware
ini tidak menyerang atau menginfeksi server internet banking sebuah bank,
melainkan menginfeksi aplikasi peramban atau browser di komputer nasabah.
Ketika nasabah membuka alamat URL untuk melakukan
kegiatan internet banking, malware ini bekerja dan menampilkan peringatan atau
laman Internet khusus yang bertujuan mengelabui nasabah.
Menurut Direktur Tipideksus Brigadir Jenderal Viktor Simanjuntak, laman palsu
ini dirancang oleh si pelaku agar sama persis seperti laman bank resmi.
Ketika nasabah berhasil dikelabui, pelaku memasukkan
data nasabah ke server-nya dan dimodifikasi sebelum data dikirim ke bank resmi.
Uang nasabah dalam transaksi ini, alih-alih ditransfer ke rekening yang
dikehendaki, justru dikirim ke rekening kurir. Jumlah uang dan tujuan rekening
sebelumnya telah diubah. Dari rekening kurir, uang dikirim ke Ukraina
menggunakan Western Union dan Moneygram.
Kesepakatannya, kurir mendapatkan 10 persen dari setiap dana yang diterima di
rekeningnya. "Kurir ini tidak tahu kalau mereka melakukan kejahatan. Dia
mengira telah melakukan kesepakatan bisnis dengan pelaku," ujar Viktor.
Untuk mengejar pelaku, Viktor berkata pihaknya telah bekerjasama dengan
Interpol. "Dia masih ada di luar sana dan saya yakin hingga saat ini
penipuan masih berlangsung," ujar Viktor.
Sebelumnya, sejumlah situs internet banking milik bank besar di Indonesia
menjadi target sasaran malware pencuri uang ini. Server milik perbankan
dipastikan dalam keadaan aman.
Menurut pakar antivirus komputer Alfons Tanujaya dari Vaksincom, malware ini
menyerang nasabah dengan cara menginfeksi aplikasi browser. Tiga browser
populer, yaitu Internet Explorer, Mozilla Firefox, dan Google Chrome, disebut
Alfons sebagai tiga browser yang menjadi target serangan malware pencuri uang
ini.
Facebook PM Kamboja Hun Sen Diretas
Jakarta, CNN Indonesia -- Akun Facebook resmi Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dilaporkan
diretas pada Jumat (10/8). Peretas dilaporkan membobol akun Hun Sen dan
mengunggah postingan berisikan pernyataan orang nomor satu itu yang seakan
ingin menyerahkan sebagian kursi parlemen yang dikuasai partainya, Partai
Rakyat Kamboja (CPP).
Unggahan membingungkan itu disukai lebih dari 3.300 pengikutnya sebelum
dihapus.
"Peretas membobol akun facebook Hun Sen dan mengatakan bahwa CPP akan
menyerahkan empat kursi parlemen kepada partai lain," ucap juru bicara
partai berkuasa itu, Sok Eysan, kepada AFP, Jumat
(10/8).
"Berita itu palsu," kata dia mengonfirmasi bahwa tidak ada rencana
dari CPP untuk menyerahkan kursi parlemen.
Eysan berasumsi peretasan itu dilakukan oleh
"kelompok oposisi, pengkhianat, pemberontak."
Peretasan ini terjadi berselang sepekan lebih setelah pemilihan umum digelar
pada 29 Juli lalu. Hun Sen dan partainya dengan mudah memenangkan pemilu
lantaran tak ada perwakilan oposisi dalam proses demokrasi itu.
Kemenangan itu disebut palsu lantaran dia terlebih dahulu menyingkirkan seluruh
pesaing dan pengkritiknya, termasuk oposisi utama Partai Penyelamat Nasional
Kamboja (CNRP).
Menjelang pemilu, Hun Sen juga gemar menyebarkan kampanye melalui media
sosialnya dengan tujuan dapat merangkul dukungan dari kaum pemuda Kamboja.
Sebab, dua pertiga dari total 16 juta rakyat Kamboja berusia di bawah 30 tahun.
Laman Facebooknya juga hingga kini tercatat telah disukai oleh 10 juta pengguna
media sosial tersebut. Namun, aktivitasnya di medsos belakangan turut dikecam
lantaran diduga membeli akun agar mengikuti dan menyukai laman Facebooknya.
Hun Sen berkeras membantah tudingan tersebut.
Kasus-Kasus Cybercrime
Reviewed by sugeng prayitno
on
Maret 28, 2019
Rating:
Reviewed by sugeng prayitno
on
Maret 28, 2019
Rating:





ok bang sep
BalasHapussiap bang sep..
BalasHapus